BANDUNG, PPK-JTW – PERUBAHAN sosial–ekonomi yang belum signifikan ke arah yang lebih baik, ditambah kian meruyaknya kasus penyalahgunaan uang Negara, korupsi, boleh jadi merupakan pemicu munculnya kelompok-kelompok masyarakat apatis dan skeptis terhadap Pemilu. Mereka tidak mau ikut dan memandang sebelah mata pada pembelajaran demokrasi yang dimulai sejak awal era reformasi.

Keputusasaan, rasa prustrasi dan kemarahan mereka kerap ditunjukkan dalam penyelenggara pemilu . Dalam pemilu legislatif, pemilu presiden, bahkan pada saat pemilihan kepala daerah di mana mereka tinggal sekalipun, mereka tidak mau ikut menyoblos dan “memproklamirkan” diri sebagai golput (golongan putih). Tidak sekadar itu, pasca Pemilu 2004 atau pada Pemilu 2009 sudah muncul adanya kelompok-kelompok yang cenderung ingin memboikot dan menggagalkan Pemilu.

“Inilah yang mesti diantisipasi oleh KPU. Kalau dulu pada Pemilu 1999 sampai 2004 masyarakat begitu antusias mendatangi TPS, rame-rame menggunakan hak pilihnya, tapi pada Pemilu 2009 sudah mulai berubah. Masyarakat tidak begitu semangat menghadapi pemilu,” papar mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum Provinsi Jawa Barat (KPU Jabar), Memet Ahmad Hakim, tanpa mengungkap secara rinci alasan apatisme masyarakat tersebut.

Ketika didaulat memberikan sambutan pada acara Silaturahmi dan Halalbihalal di aula kantor KPU Jabar Jl. Garut Bandung, Kamis (30/8), secara panjang lebar Memet menyampaikan saran kepada seluruh pimpinan KPU Jabar untuk mencermati dan belajar dari pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta yang saat itu sedang berlangsung, yang menurutnya banyak kelompok yang sudah tidak percaya lagi terhadap mekanisme demokrasi.

Bahkan, kata Memet, tidak sedikit yang berusaha mencari celah untuk menggagalkan Pilkada DKI, antara lain dengan melancarkan aksi tidak logis seperti memaksakan kehendak agar semua calon tidak ada yang menang, semuanya harus kalah, dan dianggap tidak ada satupun calon yang layak terpilih sebagai gubernur dan wakil gubernur.

“Di mana aya pemilu euweuh nu pemenang! Semua harus kalah! Di mana-mana juga, di belahan bumi manapun, yang namanya pemilu itu untuk mencari suara bagi calon yang menang, dan harus ada yang kalah. Nah, makanya untuk KPU Jabar kiranya perlu mewaspadai adanya pihak yang dengan sengaja merancang kekacauan, chaos by design, untuk menggagalkan Pilkada,” sarannya.

Selain itu, iapun mewanti-wanti KPU Jabar agar bisa memanfaatkan waktu yang tersedia menjelang pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2013, untuk mengundang dan menjalin kerjasama dengan seluruh stakeholder, elemen dan komponen masyarakat. Misalnya, dengan kalangan akademisi, ulama, mahasiswa, partai politik, organisasi kemasyarakatan (ormas) dan LSM (lembaga swadaya masyarakat).

Kerjasama dengan simpul-simpul tersebut diharapkan adanya persamaan visi, misi dan persepsi, serta terjalin kesepahaman dan kesepakatan untuk menyukseskan Pilgub 2013 dengan menggalang peran aktif masyarakat luas. Barangtentu, harus dibarengi kerja keras seluruh jajaran KPU Jabar dalam menjalankan tannggungjawab politis kepada publik.

Meski menurutnya tahun 2013 bukan tahun yang baik secara politis, tetapi suksesnya Pilgub 2013 akan ditentukan oleh sejauh mana KPU Jabar mampu membangun silaturahmi dengan para relasi, instansi-instansi terkait, stakeholder dan simpul-simpul kelembagaan masyarakat. Ia yakin itu bisa dilakukan oleh pimpinan KPU Jabar sekarang, dengan pencapaian prestasi yang lebih baik ketimbang pelaksanaan Pilgub 2008 pada masa kepemimpinan Ferry Kurniawan Rizkyansyah yang kini menjadi Anggota KPU RI. Hal penting yang perlu diperhatikan oleh KPU Jabar, yakni sering berkomunikasi, tukar pikiran, atau berkonsultasi dengan para mantan ketua dan komisioner.

“Penyelenggaraan Pilgub 2008 dipandang sukses oleh semua orang, bahkan secara nasional. Padahal, kita tahu bahwa pekerjaan teknikal KPU sangat sulit, begitu ngjelimet. Pokoknya, moal aya pagawean nu pangriweuh-riweuhna iwal ti KPU. Tapi ternyata Pak Ferry berhasil menyelesaikannya dengan baik. Itu prestasi, dan saya sangat mengapresiasi hasil kerja Pak Ferry,” lanjut Memet. (MC-KPUJBR)

Sumber: KPU Provinsi Jawa Barat

Iklan